Menurut pengamat dari lembaga think tank World Policy Institute, Jonathan Cristol, Trump dengan kepribadiannya berpotensi bertindak di luar keputusan Dewan Keamanan PBB atau NATO. Trump, kata Cristol, akan mengambil jalur bilateral untuk mengatasi konflik Suriah, atau bahkan unilateral.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Soal keterlibatan Rusia dalam konflik internasional, termasuk di Suriah dan Ukraina, Trump tidak pernah tegas mengecamnya seperti halnya pemerintahan Barack Obama. Menurut Cristol, bisa jadi Trump nanti akan mengabaikan pencaplokan Crimea oleh Rusia atau membiarkan pembantaian warga Suriah.
Trump dalam kampanye sebelumnya pernah dikutip mengatakan, "Bukankah baik jika kita bersama dengan Rusia dan menghancurkan ISIS?"
Cristol mengatakan, jika demikian Trump berpotensi "meratakan Suriah dengan tanah" dengan bergabung dengan Rusia dan meningkatkan serangan udara. Dengan berada di pihak Rusia, lanjut Cristol, penyerangan udara yang tidak terukur akan terus terjadi dan membuat penderitaan di negara itu semakin meningkat.
Rusia dikritik karena membantai ribuan orang dalam operasi udara mereka di Suriah. Jika mendukung Rusia, Trump berarti akan membantu Putin dalam menjalankan agendanya di Suriah.
"Rusia punya kepentingan untuk melanjutkan konflik Suriah, dengan memicu gelombang pengungsi ke Eropa. Hal ini kemudian membuat Eropa tidak stabil. Ini strategi Rusia, saat ini sudah terjadi Brexit dan masalah pengungsi yang membuat negara-negara Eropa mengarah ke sayap kanan radikal," ujar Cristol. (ama)