"(Presiden) memerintahkan saya untuk melanjutkan kesepakatan itu. Proses dokumennya berjalan lancar. Kami mendapatkan izin dari presiden untuk melanjutkannya," ujar Kepala Kepolisian Nasional Filipina (PNP), Dela Rosa, seperti dikutip Reuters.
Dela Rosa memang tidak menjabarkan lebih lanjut alasan Duterte menarik kembali keputusan pembatalan pembelian tersebut. Namun, ia mengatkan bahwa akan ada presiden baru di Washington dan "Dia dan Donald Trump adalah teman."
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rumor pembatalan itu mencuat setelah seorang ajudan di Dewan Perwakilan AS menginformasikan kepada Kemlu AS bahwa salah satu senator, Ben Cardin, menolak penjualan senjata itu.
Sejak kampanye itu digencarkan pada Juni lalu, dilaporkan setidaknya 3.000 pengedar dan pemakai narkoba tewas di tangan polisi tanpa proses hukum yang jelas.
Hubungan AS dan Filipina sebagai sekutu lama memang terus memburuk akibat dugaan pelanggaran HAM ini. Sejumlah pejabat AS, termasuk Presiden Barack Obama, kerap mengkritik kampanye tersebut.
Begitu panasnya hubungan kedua negara, Duterte bahkan sempat menyebut Presiden AS sebagai anak pelacur, satu komentar yang disebut-sebut membuat Obama membatalkan rencana pertemuan pertamanya dengan pemimpin baru Filipina itu di sela Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN.
Setelah itu, Duterte masih terus memantik perselisihan dengan menyebut bahwa bantuan dari AS sebenarnya sekadar basa-basi, tak seperti China. Dalam beberapa retorikanya, Duterte juga mulai menunjukkan kesan merapat ke China dan Rusia, rival AS di kawasan.
Saat memerintahkan pembatalan pembelian senapan dari AS, Duterte juga menyebut bahwa China dan Rusia sudah menawarkan senjata mereka.
Namun, sikap Duterte melunak setelah Trump memenangkan pemilu presiden AS pada pekan lalu. Ia bahkan berjanji akan menghentikan perselisihan dengan AS.
"Saya ingin mengucapkan selamat kepada Donald Trump. Kami kerap mengeluarkan sumpah serapah, bahkan untuk hal-hal sepele. Saya seharusnya berhenti karena Trump sudah di sana. Saya tidak mau berselisih lagi karena Trump sudah menang," kata Duterte.
Sejak tampil di hadapan publik dalam kampanyenya sebelum terpilih sebagai presiden, Duterte kerap disandingkan dengan Trump karena komentar-komentar kontroversialnya. Mereka juga sama-sama datang dari kalangan non-politik dalam bursa capres di negara masing-masing.
Nama mereka juga sama-sama melambung lantaran gagasan program-program kontroversial yang diklaim bertujuan untuk mengangkat kembali harkat masyarakat asli. (has/has)