"Menurut parameter kami, tindakan kapal Iran itu provokatif dan dapat dilihat sebagai eskalasi," ungkap pejabat AS itu kepada Reuters, walaupun tidak mejabarkan apakah insiden itu membuat para awak helikopter merasa terancam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada September lalu, kapal patroli AS terpaksa mengubah arah haluannya setelah mendapat serangan dari kapal Iran yang hanya berjarak sekitar 91 meter.
Insiden yang terjadi akhir pekan lalu juga menandakan kali pertama insiden seperti ini terjadi sejak Donald Trump memenangi pemilu AS pada 8 November lalu. Selama masa kampanyenya, taipan real-estate itu bersumpah akan "menembak" setiap kapal Iran yang berani menganggu dan mengancam keamanan angkatan laut AS di Teluk Arab, jika dirinya berhasil menjabat sebagai presiden AS.
Trump sendiri akan mulai menjabat di Gedung Putih menggantikan presiden petahana, Barack Obama, mulai 20 Januari mendatang.
"Ketika kapal kecil Iran berani mengepung kapal penghancur rudal AS dan melakukan tindakan yang mengancam dan seharusnya tidak dilakukan, mereka [kapal Iran] akan ditembak keluar dari perairan itu," tutur Trump beberapa waktu lalu saat kampanye.
Sejauh ini, belum ada tanggapan yang dilontarkan pemerintah Iran maupun tim transisi Trump terkait insiden tersebut.
Permusuhan antar Iran dan AS mulai reda, lantaran pada Januari lalu Washington mencabut sanksi bagi Tehran, yang merupakan salah satu poin dalam kesepakatan nuklir Iran. Namun, perbedaan dan ketegangan antar kedua negara masih tetap tinggi khususnya terkait pengembangan program rudal balistik Iran serta juga konflik di Suriah dan Irak. (ama)