"Di Davao, saya biasa melakukannya sendiri, hanya untuk menunjukkan kepada mereka (kepolisian) bahwa jika saya saja bisa melakukannya, mereka juga bisa," ujar Duterte dalam sebuah pidato yang dikutip AFP, Rabu (14/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kini, setelah ia naik takhta menjadi presiden, Duterte pun menerapkan cara serupa untuk memberantas para pengedar narkoba. Bedanya, pembunuhan itu dilakukan oleh polisi.
Setelah dilantik pada 30 Juni lalu, Duterte langsung mencanangkan kampanye anti-narkoba. Sejak saat itu, setidaknya 5.000 tersangka pengedar narkoba tewas di tangan polisi tanpa proses peradilan yang jelas.
Akibat kampanye ini, Duterte mendapat kecaman dari banyak pihak atas tuduhan pelanggaran hak asasi manusia. Kecaman itu juga datang dari Presiden Amerika Serikat, Barack Obama. Hubungan AS dan Filipina sebagai sekutu pun memanas.
Dalam pidatonya kali ini, Duterte kembali mengkritik kecaman dari Obama tersebut. Duterte berjanji akan tetap melancarkan kampanye tersebut meskipun berbagai lembaga internasional dan Obama mengkritiknya.
"Jika mereka menganggap saya akan menghentikan itu karena takut dengan para pemerhati HAM, termasuk Obama, maaf, saya tidak akan melakukannya," ucap Duterte. (ama)