Berdasarkan laporan FEWS NET, sejumlah pasokan dan bantuan pangan lain dari berbagai lembaga sulit menjangkau Kota Bama, negara bagian Borno yang menjadi bekas markas jihadis. Resiko kelaparan diperkirakan masih akan tinggi hingga tahun 2017 mendatang lantaran konflik serta pemberontakan kelompok militan yang masih terus terjadi di daerah itu.
"Skenario terburuk, konflik yang saat ini menerpa daerah itu akan memutus akses bantuan dimana kehidupan warga sangat bergantung pada bantuan tersebut," ungkap FEWS NET dalam laporannya seperti dikutip Reuters, Selasa (13/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
FEWS NET berujar, bantuan kemanusiaan yang ada saat ini di Nigeria masih belum cukup memadai menyusul semakin parahnya tingkat kelaparan di negara itu. Hanya 1 juta orang yang dilaporkan telah menerima bantuan pangan pada tahun ini.
Hingga saat ini sekitar 1,4 juta warga di Borno melarikan diri dari tempat tinggalnya dan mengungsi ke tempat lain. Empat dari lima pengungsi itu dilaporkan tinggal pada komunitas lokal setempat. Ketegangan kian meningkat antar keluarga di daerah itu menyusul pasokan makanan semakin menipis.
Sementara itu, UNICEF melaporkan, sekitar 400 ribu anak berusia di bawah lima tahun di Nigeria menderita malnutrisi akut. Lebih dari empat juta orang juga mengalami kekuarangan makanan.
Badan PBB ini pun berupaya meningkatkan penggalangan bantuan kemanusiaan untuk membantu anak malnutrisi di daerah tersebut, dari US$55 juta menjadi US$115 juta.
Meskipun pengamanan telah ditingkatkan dan memungkinan sejumlah bala bantuan masuk ke wilayah yang sebelumnya terblokir, sejumlah daerah lainnya di Nigeria masih belum bisa terjangkau oleh pekerja kemanusiaan lantaran kekerasan masih marak terjadi.
Boko Haram setidaknya telah menewaskan sekitar 15 ribu orang dan 2,4 juta orang lainnya di Kamerun, Chad, Niger, dan Nigeria mengungsi. Boko Haram telah meluncurkan aksi pemberontakannya selama tujuh tahun guna melancarkan kampanyenya membuat kekhalifahan Islam.
Tantara Nigeria telah menekan kelompok militan itu kembali ke wilayahnya di Hutan Sambisa dalam beberapa bulan terakhir. Namun, para militan itu masih saja menggelar razia dan bom bunuh diri di sejumlah wilayah di Nigeria.