Hal ini disampaikan setelah hubungan antara kedua negara memburuk menyusul upaya kudeta gagal yang terjadi Juli lalu. Sebagaimana dikutip Reuters, Senin (9/1), Erdogan menyampaikan pernyataannya itu kepada para duta besar yang dikumpulkan di Ankara dalam rangka konferensi tahunan.
"Saya percaya kita akan bisa mempercepat dialog ketika Trump menjabat. Saya percaya kita akan mencapai konsensus dengan Trump, terutama dalam persoalan-persoalan regional," ujarnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menteri Luar Negeri Mevlut Cavusoglu sebelumnya mengatakan kepada para perwakilan negara itu bahwa dirinya meyakini Trump tidak akan membuat kesalahan yang sama dengan Presiden Barack Obama.
Dia mengatakan Turki mengharapkan Washington akan mengekstradisi Gulen dan mengakhiri kerja sama dengan milisi Kurdi YPG.
Namun, hubungan baik dengan pemerintahan Trump mungkin hanya akan berlangsung singkat. Alasannya, pejabat AS sudah menegaskan masalah Gulen adalah wewenang pengadilan, bukan soal keinginan politik. Proses ekstradisi itu bisa memakan waktu bertahun-tahun.
Kebijakan Trump soal milisi YPG, sementara itu, masih belum jelas. Namun, militer AS memandang mereka sebagai sekutu yang dapat diandalkan dalam melawan kelompok teror ISIS.
Walau demikian, Trump sudah mengindikasikan prioritasnya di konflik Suriah adalah melawan ISIS, bukan memaksa Presiden Bashar al-Assad untuk turun dari jabatannya, sebagaimana dinginkan Turki. (aal)