Seorang petugas keamanan bandara mengatakan kepada AFP bahwa Ko Ni ditembak saat baru saja memasuki taksi di terminal kedatangan sekitar pukul 17.00 waktu setempat. Sopir taksi yang ditumpangi Ko Ni juga dikabarkan tewas.
"Berdasarkan informasi awal yang kami terima, Ko Ni dan sopir taksinya tewas. Seorang pria tak dikenal menembak kepalanya saat sedang menghampiri taksi. Dia (pelaku) kemudian ditahan," ujar sumber anonim tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Habibie Center selaku penyelenggara konferensi yang mengundang Ko Ni di Jakarta, menyatakan belasungkawa melalui sebuah pernyataan.
Dalam pernyataan tersebut, Habibie Center menjabarkan bahwa Ko Ni merupakan salah satu anggota delegasi Myanmar dalam diskusi bertajuk Democratic Transition, Military Reform and Communal Conflict: What can Myanmar Learn from Indonesia’s Communal Violence in a Time of Democratic Transition (1999 – 2003).
Selama ini, Myanmar masih bergelut dengan masalah transisi kekuasaan dari militer ke pemerintahan yang dipilih secara demokratis pada 2015 lalu. Pemilu yang dimenangkan oleh NLD itu dianggap sebagai harapan baru bagi Myanmar.
Namun setelah NLD berkuasa, masih banyak pemberontakan, juga kekerasan terhadap minoritas. Dengan mayoritas penduduk Buddha, sejumlah etnis Muslim minoritas, termasuk Rohingya, kerap didiskriminasi bahkan disiksa dan dibunuh.
Beberapa bulan belakangan, kekerasan terhadap Rohingya kembali marak terjadi di negara bagian Rakhine.
Meskipun beberapa negara bagian Myanmar masih bergejolak, Yangon merupakan daerah yang dikenal sebagai wilayah bisnis dengan lingkungan aman. (has)