"Saya melibatkan Pasukan Bersenjata Filipina dan meningkatkan isu narkotik sebagai ancaman keamanan negara sehingga saya akan memanggil semua pasukan untuk membantu," kata Duterte sebagaimana dikutip AFP, Kamis (2/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pernyataan Duterte menjadi sinyal jelas yang menunjukkan rencananya terkait perang narkotik, setelah dia menarik polisi dari operasi karena institusi tersebut dia nilai "korup sampai ke akar."
Langkah Duterte melawan polisi yang sebelumnya dia percaya sebagai ujung tombak melawan narkotik diambil menyusul serangakaian skandal mencuat bulan lalu. Anggota polisi diduga memanfaatkan operasi ini untuk melakukan pembunuhan, penculikan dan pemerasan.
Salah satu kasus yang menjadi sorotan adalah penculikan dan pembunuhan pengusaha Korea Selatan di markas besar polisi. Kejadian ini adalah salah satu dari rangkaian tindak pemerasan dengan dalih memberantas narkotik.
Amnesty menyebut polisi melanggar HAM secara sistematis, menembak mati orang-orang tak bersenjata, merekayasa barang bukti, menggunakan pembunuh bayaran dan mencuri dari orang-orang yang mereka bunuh.
Laporan juga menyebut polisi dibayar oleh sejumlah pejabat untuk membunuh dan mendokumentasikan korban yang salah satunya baru berusia 8 tahun.
"Polisi justru bertindak seperti penjahat bawah tanah yang mestinya mereka berangus," kata Amnesty.
Walau demikian, Duterte bergeming dan menampik tuduhan tersebut. Polisi melaporkan telah membunuh 2.555 orang dalam perang ini, sementara 4.000 korban tewas lainnya masih belum jelas.
(aal)