Sebuah Survei menunjukkan sekitar 52 persen warga Amerika Serikat merindukan kepemimpinan Obama di Negeri Paman Sam itu. Sementara, 43 persen responden lain mengaku senang melihat AS berada di bawah komando Trump.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bahkan, setidaknya 500 ribu orang telah menandatangani petisi yang mendukung pemakzulan Trump.
Seperti diberitakan The Independent, Jumat (3/1), Trump merupakan presiden dengan tingkat popularitas paling rendah dalam sejarah Amerika. Meski menang suara electoral dalam pemilu 8 November lalu, Trump sebenarnya kalah suara pemilih popular dari rivalnya Hillary Clinton.
Trump meraup 306 suara electoral mengalahkan Clinton yang hanya berhasil mendapat 232 suara. Namun, politikus Partai Republik itu hanya mendapat sekitar 62 juta suara pemilih, sementara Clinton berhasil mendapat 65 juta suara dalam pemilu popular.
Popularitas Trump yang sangat rendah ini datang menyusul sejumlah retorika dan keputusan kontroversialnya sejak kampanye hingga resmi "duduk" di Gedung Putih terhitung sejak 20 Januari lalu.
Contohnya, sepekan setelah dilantik, Trump menandatangani salah satu perintah eksekutif terkait imigrasi dan larangan perjalanan yang menggegerkan dunia.
Ia meneken perintah eksekutif yang secara garis besar melarang warga dari tujuh negara Muslim yang dinilai memiliki resiko tinggi aktivitas terorisme untuk masuk ke AS sementara. Ketujuh negara itu adalah Iran, Irak, Libya, Somalia, Sudan, Suriah, dan Yaman.
Protokol ini menimbulkan banyak kecaman tak hanya dari dalam negeri, tapi juga dari dunia internaisonal. Hanya sekitar 26 persenw arga Amerika yang mendukung larangan Muslim yang dinilai diskriminatif ini.
Selain itu, rencana Trump untuk mencabut program kesehatan Obamacare juga semakin menurunkan popularitasnya di kalangan warga sendiri. Sebab, hanya 41 persen pemilih yang mendukung Undang-Undang Fasilitas Kesehatan Terjangkau tersebut.
(stu)