Kesaksian Comey dan Rogers nanti merupakan pengakuan publik pertama mengenai isu penyadapan yang selama ini telah memicu perpecahan politik di Amerika.
Tudingan Trump pertama kali dilontarkan melalui Twitter pada Sabtu (4/3). Sejak itu, dia menekan komite intelijen Kongres untuk menyelidiki dugaan tersebut sebagai bagian dari perluasan investigasi intervensi Rusia dalam pemilu AS November lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, sejumlah anggota Kongres juga merasa frustasi atas minimnya kerja sama dan koordinasi FBI mengenai penyelidikan tudingan Trump ini. Sebab, tak ada pengarahan khusus Kongres dari pemerintah mengenai klaim Presiden ke-45 itu.
Nama Trump dianggap menjadi taruhan dalam sidang nanti. Sebab, taipan real estate itu dianggap melontarkan isu penyadapan Obama terhadap dirinya tanpa didukung bukti.
Tudingan ini kian diperparah ketika Gedung Putih menyeret badan intelijen Inggris yang dianggap turut membantu Obama melakukan penyadapan. Klaim tersebut jelas merenggangkan hubungan AS dengan sekutu terdekatnya di Eropa itu.
Di samping tudingan Trump, Comey dan Rogers juga akan bersaksi mengenai penyelidikan dugaan campur tangan Rusia selama kampanye pemilu AS 2016, yang selama ini memicu munculnya banyak spekulasi mengenai hubungan Trump dan Presiden Vladimir Putin.
Pada Januari lalu, komunitas intelijen, termasuk Badan Pusat Intelijen AS (CIA), menyimpulkan kemenangan Trump di pemilu melibatkan campur tangan Rusia.
Oknum peretas dilaporkan telah membantu Moskow masuk ke jaringan surat elektronik pejabat senior Partai Demokrat untuk membocorkan informasi jelek mengenai Hillary Clinton.
Trump dan Kremlin selama ini berkeras menampik tudingan peretasan ini. Sejauh ini, panel di Kongres juga tak menemukan bukti Trump berkolusi dengan Kremlin selama kampanye pemilu.
"Berdasarkan seluruh informasi yang saya dapat hingga pagi ini tidak ada bukti yang menujukan tim Trump bersekongkol dengan Moskow," kata Nunes.