"Perdebatan tentang pilihan Skotlandia akan kembali dimulai Selasa pekan depan, sekitar 14.20 waktu setempat," ungkap juru bicara kantor parlemen seperti dikutip Reuters, Kamis (23/3).
Sidang pembahasan referendum Skotlandia ini seharusnya bisa rampung pada Rabu kemarin, bertepatan dengan aksi teror tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Wakil Perdana Menteri Skotlandia Nicola Sturgeon meminta parlemen untuk diberikan kewenangan menggelar referendum kemerdekaan sebelum negosiasi Brexit rampung, sekitar akhir 2018 atau 2019.
[Gambas:Video CNN]
Sturgeon menginginkan referendum karena menganggap Inggris gagal menanggapi suara mayoritas warga Skotlandia yang menolak Inggris keluar UE.
Hasil referendum Brexit pertengahan 2016 lalu memaparkan, mayoritas warga Skotlandia memilih Inggris tetap berada di blok perdagangan bebas Eropa itu, dengan perbandingan 62 persen melawan 38 persen.
Dengan referendum Skotlandia, Edinburg berharap bisa berargumen agar tetap berada di UE, sementara London melangkah pergi.
Lihat juga:Pelaku Teror London Pria Kelahiran Inggris |
Namun, PM May menuturkan, saat ini bukan waktu yang tepat bagi Skotlandia untuk mendiskusikan referendum kemerdekaan. Alasannya, tidak adil bagi rakyat Skotlandia jika harus memutuskan tanpa mengetahui hasil akhir negosiasi Brexit.
"Saat ini yang seharusnya kita lakukan adalah bekerja sama meraih hasil terbaik bagi Skotlandia dan juga hasil terbaik bagi Inggris. Ini sudah menjadi tugas seorang perdana menteri. Saya katakan pada Partai SNP, saat ini bukan waktu yang tepat untuk referendum," tutur May.
Meski May tidak secara langsung menolak referendum, Menteri Inggris urusan Skotlandia David Mundell justru secara blak-blakan mengesampingkan diskusi apapun mengenai keinginan Edinburg untuk memerdekakan diri dari London.
Mundell sempat menuturkan bahwa Skotlandia tidak punya pilihan untuk tetap berada di UE meski referendum berhasil dilangsungkan.
"Tidak ada peluang bagi Skotlandia untuk mengisi kekosongan keanggotaan Uni Eropa menyusul keluarnya Inggris," kata Mundell.