"Mengutuk keras penggunaan senjata kimia di Suriah, khususnya serangan terhadap Khan Sheikhun dan mengungkapkan kemarahan atas penggunaan gas beracun selama perang sipil yang telah berlangsung enam tahun," bunyi rancangan resolusi itu.
Ketiga negara juga menuntut penyelidikan menyeluruh terkait serangan yang diduga dilakukan pemerintahan Presiden Bashar al-Assad.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
[Gambas:Video CNN]
Damaskus juga diminta memberikan seluruh nama komandan skuadron helikopter mereka ke penyelidik PBB dan memberi akses para investigator untuk bertemu dengan jenderal militer dan pejabat tinggi Suriah, selambat-lambatnya lima hari ke depan.
Selain itu, ketiga negara meminta Pemerintahan Assad juga memberi akses masuk bagi PBB ke sejumlah pangkalan udara Suriah. Draf tersebut juga bisa jadi berujung pada penjatuhan sanksi bagi Damaskus sesuai kewenangan di bawah bab 7 piagam PBB.
Lihat juga:Sarin, Gas Beracun yang Diduga Serang Suriah |
Meski begitu, sejumlah diplomat di New York masih belum yakin jika Rusia, sekutu utama Assad, akan mendukung resolusi tersebut.
Menurut Duta Besar Inggris untuk PBB Matthew Rycroft, serangan yang menewaskan puluhan warga sipil di daerah pemberontak Suriah tersebut merupakan sebuah kejahatan perang.
Dia menekan seluruh anggota DK untuk mendukung proposal resolusi tersebut, mendorong anggota yang pernah memveto resolusi serupa-- seperti Rusia dan China pada 2014-2015 lalu--untuk tak menggunakan haknya dalam pemungutan suara kali ini.
Sebelumnya pemerintahan Assad juga pernah dituding menggunakan gas beracun selama perang melawan pemberontak di negaranya.
Penyelidikan PBB bahkan telah menyimpulkan pada Oktober lalu bahwa angkatan udara Suriah menggunakan bom-barel klorin untuk menyerang tiga wilayah oposisi di tahun 2014 dan 2015.