Bozdag mengatakan hal tersebut kepada wartawan, Kamis (6/4). Sebanyak 32 korban serangan yang terjadi pada dini hari itu dibawa ke Turki. Tiga di antaranya meninggal dunia tidak lama setelahnya.
"Autopsi dilakukan terhadap tiga jenazah korban setelah mereka dibawa dari Idlib. Hasil autopsi mengonfirmasi bahwa senjata kimia benar digunakan," kata Bozdag sebagaimana dilaporkan Anadolu, dikutip AFP.
Lihat juga:Serangan Kimia, Erdogan Sebut Assad Pembunuh |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Amerika Serikat dan Turki menuding pemerintahan Bashar al-Assad berada di balik peristiwa mematikan tersebut. Namun, militer Suriah menampik dan mengatakan tidak akan sekali pun menggunakan senjata kimia.
Di sisi lain, Rusia yang merupakan sekutu Assad menyebut paparan gas beracun terjadi karena serangan udara pemerintah mengenai "gudang teroris" yang menyimpan senjata kimia.
"Investigasi ilmiah ini juga mengonfirmasi Assad menggunakan senjata kimia," kata Bozdag, tanpa menjelaskan lebih jauh.
Organisasi Dokter Lintas Batas mengungkapkan para korban terpapar dua jenis zat, yakni racun syaraf dan kemungkinan klorin. Mereka juga menyebut serangan kimia itu sebagai yang terparah dalam sejarah perang Suriah.
Setidaknya 72 orang dewasa termasuk anak-anak terbunuh dalam serangan tersebut.