Juru bicara militer Sri lanka, Roshan Senivirathna, mengatakan bahwa sangat kecil kemungkinan ada korban selamat dalam insiden ini.
Walaupun begitu, Senivirathna menekankan, 1.000 personel tim SAR akan terus bekerja mencari korban yang tertimbun longsor.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tumpukan lumpur dan sampah itu dilaporkan menimbun banyak bangunan dan merusak setidaknya 145 rumah warga di sekitar tempat pembuangan sampah itu.
Hingga kini, polisi masih menyelidiki penyebab pasti longsor ini, murni bencana atau ulah manusia.
Sementara itu, Liyanage Menaka, salah satu korban yang kehilangan rumah akibat peristiwa ini, mendesak pemerintah menyediakan tempat tinggal layak bagi warga di sekitar daerah berbahaya itu.
"Nyawa lebih dari 100 orang hilang. Yang kami minta adalah pemerintah memberi solusi untuk mengurus anak-anak kita," tuturnya seperti dikutip Reuters, Senin (17/4).
Selama ini, warga sekitar sebenarnya sudah menuntut penutupan tempat pembuangan sampah tersebut dengan alasan kesehatan. Pemerintah pun setuju untuk segera menutup tempat tersebut.
Merespons peristiwa ini, Presiden Maithripala Sirisena menginstruksikan otoritas berwenang untuk menyalurkan bantuan finansial bagi warga yang terkena dampak.