Aksi ini dilakukan sebagai respons atas seruan tahanan terkemuka, Marwan Barghouti, yang digadang sebagai salah satu calon presiden Palestina di masa yang akan datang. Israel menyatakan gerakan para tahanan yang sebagian besar terkait kasus serangan terhadap pemerintah itu didasari motif politik.
Barghouti, 58, adalah seorang pemimpin gerakan Fatah dari Organisasi Pembebasan Palestina. Ia menjalani lima hukuman penjara seumur hidup setelah diputus bersalah atas kasus pembunuhan warga Israel dalam pemberontakan 2000-2005.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam artikel kolom opini di New York Times, sebagaimana dikutip Reuters, Selasa (18/4), Barghouti mengatakan aksi mogok makan ini satu-satunya cara untuk mendapatkan perhatian Israel, setelah serangkaian upaya lain gagal.
"Melalui aksi mogok makan, kami berupaya mengakhiri penganiayaan .... Tahanan Palestina menderita akibat penyiksaan, perlakuan tak manusiawi dan melecehkan serta pengabaian medis. Beberapa orang tewas dalam penahanan," tulisnya.
Sementara itu, Israel menampik memperlakukan tahanan dengan sewenang-wenang dan Menteri Keamanan Publik Gilad Erdan mengatakan protes itu "dipicu oleh politik internal Palestina dan karena itu menuntut hal-hal yang tak masuk akal."
Kementerian Luar Negeri Israel dalam pernyataan pers mengatakan "tahanan Palestina bukan tahanan politik. Mereka adalah orang yang didakwa atas kasus terorisme dan pembunuhan. Mereka diadili dan diperlakukan sesuai hukum internasional."
Pejabat Palestina mengatakan sekitar 1.500 tahanan terafiliasi semua faksi politik, termasuk Fatah dan Hamas, ikut serta dalam aksi mogok makan itu. Seorang juru bicara Badan Pemasyarakatan mengatakan 1.100 tahanan di delapan penjara turut memprotes.