Inada mengatakan, Tokyo siap memobilisasi pasukannya ke Semenanjung Korea sebagai langkah perlindungan dan evakuasi warga Jepang jika diperlukan.
Menteri perempuan yang vokal mendukung penambahan peran militer negaranya itu berujar, langkah pengerahan pasukan seperti itu berkesesuaian dengan undang-undang berlaku, meski kewenangan tentara Jepang dibatasi sejak Perang Dunia II berakhir.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Melansir AFP, Selasa (18/4), hingga kini, sejarah kolonialisme pun kerap menjadi hambatan hubungan bilateral kedua negara. pengiriman pasukan ini pun diperkirakan akan memunculkan amarah dari sisi Korsel.
Langkah tersebut terpaksa diambil Jepang menyusul sikap Pyongyang yang tak juga menghentikan uji coba rudalnya.
Korut terus menjadi sorotan setelah pada awal tahun baru lalu, pemimpin tertinggi mereka, Kim Jong-un, memerintahkan penguatan program rudal balistik antar benua (ICBM) negaranya.
Sepanjang tahun ini, Korut pun sudah meluncurkan beberapa uji coba rudalnya, dua di antaranya mencapai perairan di dekat wilayah Jepang.
Yang terbaru, Korut kembali menguji coba sistem rudalnya pada Minggu (16/4) meski berakhir gagal.
Lihat juga:'Trump Lebih Menakutkan dari Kim Jong-Un' |
Wakil Menteri Luar Negeri Korut, Han Song-Ryol, bahkan menuturkan negaranya akan terus melakukan uji coba rudalnya secara berkala "setiap minggu, bulan, bahkan tahunan."
Dia juga mengatakan, perang habis-habisan akan terjadi jika Washington mengambil aksi militer yang terus mengancam negaranya, seperti dikutip The Guardian.