Seorang pekerja pemerintahan ditembak mati di Andean, Merida, dalam unjuk rasa kontra-protes untuk mendukung pemerintahan sosialis yang dipimpin Maduro. Sementara seorang lainnya mengalami luka tembak dan dibiarkan menghadapi situasi "hidup dan mati," kata ombudsman Tarek Saab, dikutip Reuters.
Kematian tersebut menambah panjang daftar korban tewas menjadi 11 orang, dalam kerusuhan yang dinodai penembakan bermotivasi politik dan benturan setiap hari antara pasukan keamanan bersenjata peluru karet dengan pemrotes yang melempari dengan bom molotov.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pemerintahan Maduro menuding lawannya mencoba melakukan kudeta dengan kekerasan yang didukung oleh Amerika Serikat, sementara oposisi mengatakan sang Presiden adalah diktator yang membungkam protes damai.
"Perut saya kosong karena saya tidak bisa menemukan makanan," kata Jeanette Canozo, seorang ibu rumah tangga berusia 66 tahun yang juga mengatakan polisi menggunakan peluru karet terhadap para demonstran di Caracas, pagi harinya.
Para demonstran mengenakan baju berwarna kuning, biru dan merah seperti bendera Venezuela dan memegang spanduk mengecam kekurangan pasokan, inflasi dan kejahatan dengan kekerasan sambil berteriak: "pemerintah ini telah runtuh!"
Di Tachira, dalam sebuah aksi duduk yang direncanakan di seluruh negara bagian Venezuela ini, beberapa bermain Ludo, sementara yang lain bermain bola atau menikmati teater jalanan.
Dalam protes di Bolivar selatan, seorang profesor memberikan kuliah soal politik sementara beberapa orang duduk bermain Scrabble dan yang lainnya memasak sup di atas api kecil di jalanan.
[Gambas:Video CNN]