Seolah belum lama Le Pen naik panggung untuk menyapa para pendukungnya, kini sistem politik negara itu sudah bergerak untuk menentangnya. Ketika dia bilang "ini waktunya untuk membebaskan Perancis dari para elite arogan," orang-orang yang dia hina menyalurkan dukungannya kepada sang lawan yang merupakan politikus moderat.
Seiring para pendukung gerakan "En Marche" Macron bersorak, baik partai Republik yang mendukung Francois Fillon maupun Sosialis yang mendukung Benoit Hamon meminta para kadernya untuk mengalihkan dukungan ke Macron.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemenangan Macron dalam pemungutan suara dua hari lalu pun sudah diperkirakan oleh lembaga survei. Dengan demikian, dapat dikatakan hasil ini tidak jadi kejutan karena jajak pendapat di Perancis sudah berulang kali terbukti akurat.
Kejutan sesungguhnya di sini adalah penolakan rakyat Perancis terhadap dua partai utama dan memuncaknya dukungan untuk Macron yang tidak diusung partai tradisional.
Lihat juga:Le Pen: Macron Lemah Lawan Terorisme Islamis |
Hasil ini menunjukkan bagaimana warga Perancis menginginkan perubahan. Negara ini kini dilanda masalah pengangguran, ekonomi stagnan, masalah keamanan dan masih terpecah belah. Pemerintah disulitkan dengan masalah imigrasi dan integrasi.
Menurut analisis CNN, faktor ini menguntungkan Le Pen. Banyak pendukungnya semakin diasingkan oleh para "elite politik." Di sisi lain, Macron yang memproyeksikan diri sebagai masa depan Perancis, seorang pria muda dan ambisius yang ingin negaranya tetap terbuka dan menjadi jantung Uni Eropa, pun menarik banyak suara.
Namun, bukan berarti suara yang sudah dia raup tidak terancam kembali raib. Yang perlu diperhatikan Macron saat ini adalah kemungkinan para pendukung yang tidak memilihnya di putaran pertama untuk memilih Le Pen di putaran selanjutnya.
[Gambas:Video CNN]
Satu-satunya kandidat teratas yang menyatakan tidak akan mendukung Macron adalah Jean-Luc Melencon, kandidat sayap kiri yang menempati posisi keempat di putaran pertama.
Selain itu, Macron pun akan mengalami kesulitan jika banyak pendukung Melenchon tidak memberikan suaranya di putaran kedua dan lebih memilih abstain.
Namun, bercermin dari pencalonan Jean-Marie Le Pen, ayah Marine sekaligus pendiri Partai Front Nasional, pada 2002 lalu, kemungkinan warga Perancis akan bersatu untuk mencegah politikus ekstrem kanan untuk menguasai Perancis.
Dominic Thomas, profesor kajian Perancis di UCLA, mengatakan banyak warga Perancis akan merasa "diperas secara moral" untuk memilih Macron dalam rangka mencegah Le Pen menempati kursi kekuasaan.
Faktor eksternal seperti skandal yang sempat menyinggung Macron atau serangan teror belum lama ini bisa saja mendorong perolehan suara Le Pen. Namun, bagaimanapun dia tetap menjadi calon yang tidak dijagokan.