Pernyataan pimpinan ASEAN di akhir KTT di Manila, Filipina, tahun ini tidak lagi menyebut "reklamasi daratan dan militerisasi" sebagaimana dalam kesempatan-kesempatan sebelumnya.
Rujukan itu digunakan dalam konferensi tahun lalu dan bahkan pada versi awal pernyataan yang tidak dipublikasi tahun ini, sebagaimana dilaporkan Reuters, Selasa (2/5).
Lihat juga:Jokowi Hadiri KTT ASEAN ke-30 di Manila |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Negara itu kerap dituding mencoba memengaruhi penyusunan pernuataan untuk meredam hal yang dianggap mempersulit klaimnya di perairan tersebut.
"Sejak tahun lalu, dengan upaya bersama antara China dan negara-negara ASEAN termasuk Filipina, ketegangan di Laut China Selatan telah mereda. Saya pikir hal ini sesuai dengan kepentingan negara-negara di kawasan," ujarnya.
Situasi relevan di KTT ASEAN lagi-lagi menunjukkan sepenuhnya perubahan positif terkait situasi Laut China Selatan dan harapan bersama negara-negara di kawasan ini adalah untuk mencapai stabilitas, mempromosikan kerja sama dan meraih perkembangan, dan ini harus dihargai oleh semua pihak."
Lihat juga:Melongok Kapal Induk Pertama Buatan China |
Pejabat Kementerian Luar Negeri Filipina Zaldy Patron, yang berkewenangan dalam masalah-masalah ASEAN, menyatakan tidak ada satu pun pihak di KTT yang menekankan masalah Laut China Selatan, atau menyinggung reklamasi dan militerisasi tersebut.
"Namun di sisi lain, para pemimpin menyoroti peningkatan hubungan antara China dan ASEAN," kata Patron di Manila.
Setelah dilobi Duterte, China sepakat untuk membiarkan kapal-kapal Filipina kembali ke perairan kaya ikan di Scarborough, setelah empat tahun diblokade.
China mengklaim sebagian besar Laut China Selatan. Vietnam, Filipina, Malaysia, Brunei dan Taiwan juga turut mengklaim bagian yang diklaim oleh Beijing.