Seorang pejabat Amerika Serikat mengatakan rudal balistik jarak menengah itu ditembakkan dari bagian utara Pyongyang dan hancur beberapa menit setelah diluncurkan. Rudal yang diprediksi berjenis KN-17 itu jatuh di sekitar Laut Timur yang juga dikenal dengan sebutan Laut Jepang, masih dalam teritorial Korut.
Menurut laporan Harian Ekonomi Seoul, rudal itu sempat meluncur sejauh 48 kilometer sebelum diledakkan oleh otoritas Pyongyang lantaran khawatir menyulut protes Rusia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya, sumber tersebut menuturkan, rudal tersebut direncanakan meluncur 89-90 derajat ke arah timur dengan proyeksi jatuh di Laut Timur.
Sementara itu, ketua Komite Pertahanan dan Keamanan Rusia, Viktor Ozerov, mengatakan pertahanan udara di bagian timur wilayahnya dalam kondisi siaga tinggi.
"Pasukan pertahanan udara Federasi Rusia di bagian timur telah siaga tinggi. Kami mengendalikan dan mengamankan wilayah udara yang menjadi zona tanggung jawab angkatan udara Rusia," tutur Ozerov.
Sepanjang tahun ini, Pyongyang tercatat sudah meluncurkan sejumlah uji coba rudal, dua di antaranya mencapai perairan di dekat wilayah Jepang.
Dengan ambisi rudal nuklirnya, negara paling terisolasi ini menjadi salah satu tantangan utama global.
Gedung Putih mengatakan, melalui sambungan telepon pada Selasa (2/5), kedua pemimpin berdiskusi mencari solusi terbaik menghadapi Korut di tenga situasi "sangat berbahaya" ini.