Politikus sentris independen yang belum pernah mengikuti pemilihan umum sebelumnya ini telah menjadi presiden termuda Perancis setelah mengalahkan kandidat ekstrem kanan Marine Le Pen, Minggu (8/5).
Mantan bankir berusia 39 tahun, yang mengikuti persaingan menuju kursi orang nomor satu di negara tersebut tanpa dukungan partai mapan, sempat dicap tak berpengalaman oleh para pesaingnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Lima Tantangan untuk Presiden Baru Perancis |
Ditunjuk sebagai staf Presiden Francois Hollande pada 2012 setelah sukses berkarir di sektor perbankan, Macron diangkat sebagai menteri ekonomi dua tahun kemudian, menggantikan Arnaud Montebourg yang lebih berhaluan kiri.
Walau demikian, masa jabatannya dirundung kontroversi. Niatnya mendorong reformasi liberal yang bersahabat dengan pebisnis membuatnya tidak populer, bahkan di kalangan pemerintahan sendiri.
Undang-undang yang disebut "hukum Macron," bertujuan untuk menggenjot perekonomian melalui reformasi buruh, mesti didorong ke parlemen dengan langkah kontroversial.
Mengumumkan pengunduran dirinya pada Agustus, dia menjelaskan bahwa dia "telah menyentuh batasan sistem dengan jari tangan sendiri," sebelum meluncur ke perlombaan menuju kursi presiden dengan membentuk gerakan En Marche.
Emmanuel Macron memenangi pemilu Perancis. (REUTERS/Christian Hartmann) |
Dia juga vokal dalam peperangan melawan teror, hukum dan ketertiban, mengajukan peningkatan anggaran pertahanan, menyewa 10 ribu anggota polisi tambahan dan membentuk satuan tugas yang akan bekerja penuh melawan ISIS.
Dia dengan tegas mendukung Uni Eropa dan berjanji akan membawa Perancis kembali ke jantung benua biru, bertekad mempertahankan pasar tunggal blok tersebut.
Selain itu, dengan nada diplomatik dia menyatakan ingin berbincang dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, sementara tetap menunjukkan ketertarikan untuk bekerja sama denga Rusia, Iran, Turki dan Arab Saudi untuk mencapai solusi damai di Suriah dan zona konflik lain.
Dan dia mendapatkan dukungan dari seluruh spektrum politik di Perancis.
Lihat juga:Menilik Perancis di Tangan Emmanuel Macron |
Secara krusial, Macron berhasil menarik sejumlah pemilih pertama dari semua umur.
En Marche, yang baru didirikan pada September lalu, kini punya lebih dari 200 ribu anggota dan pertemuan-pertemuannya menarik massa dalam jumlah yang besar.
Dengan basis dukungan yang kuat dari Republik dan Sosialis, Macron melejit ke Istana Kepresidenan Elysee.
Kampanyenya mungkin sudah berakhir, tapi pekerjaan yang sesungguhnya baru dimulai. Sebagaimana dikatakan Macron sendiri, "halaman baru dari sejarah kita," telah dibuka.
Emmanuel Macron memenangi pemilu Perancis. (REUTERS/Christian Hartmann)