Dalam satu dekade, Perancis memang menghadapi beberapa tantangan ekonomi usai krisis Eropa tahun 2008 menghantam. Seperti, angka pertumbuhan ekonomi yang cenderung stagnan, tingkat pengangguran yang tinggi, serta daya saing industri yang mengendur.
Emmanuel Macron merupakan mantan bankir investasi dan pernah bergabung dalam pemerintahan Presiden Francois Hollande. Kemudian, ia memilih hengkang dari pemerintahan setelah merasa frustasi terhadap reformasi ekonomi yang dilakukan Hollande yang dianggap terlalu lamban.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia juga berjanji tidak akan mengutak-atik peraturan waktu kerja 35 jam setiap minggu yang selama ini dianggap kontroversial. Sebaliknya, ia berencana untuk mengatasinya dengan memungkinkan perusahaan menegosiasikan kesepakatan internal dengan karyawan mereka soal jam kerja dan gaji.
Lihat juga:Angka yang Pastikan Kemenangan Macron |
Ia juga akan mendorong reformasi agenda dalam merespon globalisasi yang selama ini dianggap menggangu perekonomian Perancis. Tak cuma itu, ia berjanji memangkas pajak perusahaan dari 33 persen menjadi 22 persen. Ia juga ingin Perancis melakukan penghematan anggaran hingga 60 miliar euro dalam lima tahun ke depan.
Namun, menurut dia, kebijakan-kebijakan tersebut harus dilakukan secara perlahan, sehingga tidak memberikan efek kejutan bagi perekonomian Uni Eropa. "Saya mengerti strateginya, tetapi bukan itu yang akan memberikan hasil langsung, itu semua butuh waktu," pungkasnya.