Pernyataan ini dilontarkan Abbas sepekan setelah dia bertemu dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang berkomitmen untuk mendamaikan kedua negara.
"Kami mengatakan kepadanya [Trump], Palestina siap berkolaborasi dengannya dan bertemu PM Netanyahu di bawah naungan AS untuk membangun perdamaian," tutur Abbas saat bertemu dengan Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier, Selasa (9/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Abbas juga mengatakan, Trump akan mengunjungi Palestina "dalam waktu dekat," memegang ucapan taipan real estate itu yang berjanji akan mengunjungi Bethlehem di Tepi Barat sesegera mungkin.
Abbas berharap, Trump akan merealisasikan janjinya itu dalam rangkaian lawatan kenegaraan perdananya akhir Mei nanti.
Seorang ajudannya mengatakan, Trump tak menutup kemungkinan akan bertandang ke Tepi Barat. Meski begitu, kunjungan perdana Trump ke Palestina itu bergantung pada situasi dan kondisi keamanan nanti.
Kepada Abbas di Washington, Trump dengan percaya diri menyatakan AS akan menjadi mediator sekaligus fasilitator untuk menengahi konflik berkepanjangan itu.
Padahal, konflik Israel-Palestina selama ini kerap menjadi ganjalan pemerintah AS. Namun, di depan Abbas, Trump menyatakan siap untuk menerima "tantangan permainan" itu, seolah menganggap kecil kerumitan konflik yang telah berlangsung puluhan tahun tersebut.
Bagaimana pun, pendirian Trump soal konflik Israel-palestina selama ini dinilai tak konsisten. Di satu sisi, konglomerat asal New York itu tak mendukung solusi dua negara saat bertemu Netanyahu pada Februari lalu.
Dia mengatakan akan mendukung solusi satu negara jika itu memang mendorong perdamaian, mendukung Israel yang tak ingin melihat Palestina merdeka.
Semasa kampanye, Trump bahkan pernah bersumpah memindahkan kedutaan besar AS di Israel ke Yerusalem, kota yang selama ini menjadi pusat konflik. Yerusalem pun dianggap warga Palestina merupakan ibu kota masa depan negaranya ketika merdeka.