Assad bersumpah, dalam wawancara dengan stasiun televisi ONT yang disiarkan pada Kamis (11/5) untuk mempertahankan zona tersebut dan, dengan bantuan Iran dan Hizbullah, akan menghancurkan pihak-pihak yang mencoba menembusnya.
Upaya selama ini untuk mengakhiri perang sipil enam tahun di Suriah selalu gagal, sementara gencatan senjata yang disepakati oleh pemerintah dan pemberontak pada Desember dengan cepat dilanggar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tujuan kedua adalah untuk memberikan militan yang ingin rekonsiliasi dengan pemerintah sebuah kesempatan ... untuk menyelesaikan masalah mereka, menyerahkan senjata dengan imbalan pengampunan," ujarnya dalam siaran yang dikutip Reuters itu.
Damaskus menyatakan pemberontak mesti membantu pemerintah mengusir kelompok jihadis dari zona aman dan melihat kesepakatan rekonsiliasi itu, yang termasuk evakuasi pemberontak dari area terkepung, sebagai alternatif pembicaraan damai.
Oposisi Suriah menolak gagasan Rusia itu, menyebutnya sebagai ancaman bagi integritas wilayah negara. Selain itu, mereka juga menolak untuk mengakui Iran sebagai penjamin rencana gencatan senjata apapun.
Assad mengatakan dirinya "tidak lelah" dan akan terus berperang melawan teroris--istilah yang digunakan pemerintah untuk merujuk pada semua pemberontak.
Dalam kesempatan ini, Assad juga menyinggung serangan yang diperintahkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump ke salah satu pangkalan udaranya bulan lalu. Menurutnya, aksi yang diklaim merupakan respons atas dugaan penggunaan senjata kimia itu dilakukan untuk "menunjukkan mandatnya" kepada kelompok politik dan lobi AS.
Sementara, Suriah menampik terlibat dalam serangan tersebut.