“Ini bukan tentang kewenangan seorang presiden. Ini lebih tentang pribadi seorang pemimpin negara dan kinerjanya,” tutur mantan Direktur Badan Pusat Intelijen AS (CIA), Michael Hayden, Senin (15/5).
Trump disebut membocorkan informasi rahasia soal ancaman dan rencana aktivitas kelompok teroris ISIS kepada Lavrov dan duta besar Rusia Sergey Kislyak dalam sebuah pertemuan di Gedung Putih pada pekan lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Akibat insiden ini, timbul pertanyaan apakah sang Presiden bisa dipercaya dengan tanggung jawabnya sebagai pemimpin negara dan apakah dirinya memahami implikasi mendiskusikan rahasia negara kepada musuh.
Tak hanya itu, kredibilitas politik Gedung Putih dan komunikasi antara para pejabat di dalamnya turut dipertaruhkan.
Meski telah membocorkan rahasia, Alan Dershowitz, seorang profesor di Harvard University, mengatakan Trump aman dari tuntutan kriminal atau bahkan pemakzulan.
Sebab, berdasarkan konstitusi AS, seorang presiden memang memiliki kewenangan untuk mendeklasifikasi informasi-informasi intelijen.
“Ini adalah tuduhan paling serius kepada presiden AS. Jangan sepelekan tudingan ini,” katanya.
[Gambas:Video CNN]
Sementara itu, seorang pengajar senior di bidang studi kepemerintahan Brookings Institution, Benjamin Wittes, mengatakan tindakan Trump ini berdampak sangat buruk bagi intelijen AS.
Dia juga menuturkan, pembocoran rahasia tersebut turut membahayakan sumber intel penting AS mengenai ISIS.
“Cerita ini memuakkan. Anda mungkin harus bekerja sama dengan orang-orang di kementerian keamanan nasional untuk memahami betapa buruknya ini. Benar-benar mengerikan,” tutur Wittes.
Senada dengan Wittes, Elliot Cohen, seorang profesor di sekolah tinggi studi internasional John Hopkins University menganggap insiden ini mengerikan.
“Ini sangat mengerikan. Jika disengaja, ini akan menjadi pelanggaran bagi Trump sebagai soerang presiden. Jika dia sengaja, ini akan menjadi sebuah tindakan pengkhianatan,” kata Cohen, dilansir Business Insider.