Diumumkan oleh Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Keuangan AS, aksi ganda itu tampaknya diambil untuk memberi sinyal keras kepada Iran walaupun Trump nyatanya melanjutkan perjanjian yang dibuat di masa pemerintahan Barack Obama. Di bawah kesepakatan itu, Iran sepakat membatasi program nuklirnya untuk mendapat keringanan sanksi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Negeri Paman Sam menyebut Iran sebagai "negara sponsor terorisme." AS juga menyatakan dukungan Teheran untuk Presiden Suriah Bashar Al-Assad dalam perang saudara, pemberontak Houthi di perang saudara Yaman dan partai serta milisi Syiah Hizbullah di Libanon, berkontribusi pada ketidakstabilan Timur Tengah.
Secara terpisah, Kementerian Keuangan menyatakan telah menjatuhkan sanksi untuk dua pejabat pertahanan senior Iran, perusahaan Iran, seorang warga China dan tiga perusahaan China karena mendukung program rudal Balistik Teheran.
Keputusan itu sekaligus memblokir semua aset yang mungkin mereka miliki di Amerika Serikat dan melarang warga Amerika, juga non-Amerika, untuk berbisnis dengan mereka. Jika tidak, maka AS akan memasukkan orang-orang yang terbukti berhubungan usaha ke dalam daftar hitam.
Keputusan ini menjadi langkah besar di awal masa pemerintahan Trump, yang telah menyatakan bakal meninjau ulang kebijakan dalam berhubungan dengan Iran.
Iran menggelar pemilihan presiden pada Jumat ini. Hassan Rouhani, petahana sekaligus ulama pragmatis yang menandatangani kesepakatan nuklir tersebut, bakal bertarung melawan penantang konservatif dan mencoba meyakinkan pemilih bahwa dirinya bisa memberikan kemajuan ekonomi.