Bentuk interaksi yang sebelumnya tidak terungkap itu kini sedang ditinjau ulang oleh Biro Investigasi Federal (FBI) dan penyelidik kongres yang mendalami dugaan turut campur Rusia dalam pemilu, termasuk hubungan antara tim sukses Trump dan negara yang selama ini menjadi rival AS itu.
Dilaporkan Reuters, Kamis (18/5), tiga pejabat dan mantan pejabat AS mengatakan enam kontak yang sebelumnya tak terungkap itu dilakukan dalam bentuk panggilan telepon antara Sergei Kisylak, duta besar Rusia untuk AS, dan sejumlah penasihat Trump, termasuk Flynn.
Lihat juga:Anggota Kongres AS Tuntut Pemakzulan Trump |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Para sumber yang menjelaskan pertemuan itu kepada Reuters mengaku belum melihat ada bukti pelanggaran atau kolusi yang dilakukan antara tim sukses dan Rusia dalam serangkaian komunikasi yang sedang ditinjau FBI sejauh ini. Namun, pengungkapan ini bisa meningkatkan tekanan untuk Trump dan para pendampingnya untuk membeberkan pengakuan penuh kepada FBI dan Kongres.
Gedung Putih tidak menanggapi ketika dimintai komentar terkait hal ini. Begitu pula pengacara Flynn. Di Moskow, seorang pejabat Kementerian Luar Negeri menolak berkomentar soal kontak tersebut dan meminta Reuters untuk menghubungi pihak pemerintah Trump.
Belasan panggilan telepon dan surat elektronik itu terjadi antara April dan November 2016, saat para peretas melakukan tindakan yang disebut intelijen AS sebagai bagian dari operasi Kremlin mempengaruhi hasil pemilu untuk menguntungkan Trump dari pesaingnya, Hillary Clinton.
Serangkaian pembicaraan itu berfokus pada perbaikan hubungan ekonomi Rusia-AS yang terhambat sanksi untuk Moskow, kerja sama melawan teroris ISIS di Suriah dan menahan laju perkembangan China, kata para sumber.
Anggota Komite Intelijen di Dewan Perwakilan dan Senat telah meminta Badan Intelijen Pusat (CIA) dan Badan Keamanan Nasional (NSA) untuk meninjau transkrip serta dokumen lain terkait kontak antara tim sukses Trump dan pejabat Rusia, kata sumber lainnya.