Duterte mengatakan, insiden ini terjadi di dekat kota Marawi ketika militer sedang melakukan operasi pemberangusan teroris.
"Kepala kepolisian di Malabang tengah dalam perjalan pulang dan tiba-tiba dicegat oleh teroris. Saya pikir, saat itu juga mereka memenggal kepalanya," tutur Duterte dalam sebuah konferensi pers pada Rabu (24/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih dari 100 militan bersenjata terlibat bentrokan dengan militer dalam operasi ini. Beberapa di antara mereka membakar bangunan dan melakukan sejumlah taktik lainnya untuk mengecoh aparat.
Menurut sejumlah pejabat lokal, sejak bentrokan mencuat, ribuan warga sipil berangsur-angsur meninggalkan Marawi.
Namun, pertempuran sporadis tetap meluas, menunjukkan kemampuan kelompok militan dalam menebar teror dan menimbulkan kehancuran.
Duterte pun sudah berulang kali mengatakan bahwa darurat militer merupakan cara tepat untuk memberangus militan dan mencegah ekstremisme serta radikalisme menyebar di negaranya.