"Konsekuensi darurat militer dan dampak dari darurat militer, saya sendiri yang akan bertanggung jawab. Lakukan saja tugas kalian, saya akan mengurus yang lainnya. Jika kalian memerkosa tiga orang, saya yang akan mengaku melakukannya," ujar Duterte, dikutip CNN.
Duterte memang sudah beberapa kali melontarkan canda mengenai pemerkosaan. Namun, pernyataannya kali ini mendapatkan respons keras dari sejumlah aktivis hak asasi manusia, salah satunya wakil direktur urusan Asia dari Human Rights Watch, Phelim Kine.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Komentar pro-pemerkosaan ini menambah kekhawatiran aktivis HAM bahwa Duterte bukan hanya akan menutup mata atas kemungkinan penganiayaan oleh militer di Mindanao, tapi bahkan mendorong mereka," katanya kepada CNN.
Pernyataan ini pun membuat para aktivis HAM khawatir militer akan semakin berbuat sewenang-wenang. Saat memberlakukan darurat militer ini pada pekan lalu saja, Duterte memberikan kewenangan kepada tentara untuk menangkap orang tanpa surat perintah.
Duterte memberlakukan darurat militer pada pekan lalu, setelah terjadi bentrokan berkelanjutan antara militer Filipina dan kelompok militan Maute di Marawi yang sudah menewaskan puluhan orang.
Bentrokan pecah saat militer Filipina melancarkan operasi untuk menangkap pemimpin kelompok Abu Sayyaf, Isnilon Hapilon.