Direktur Afrika Kemlu RI Daniel Tumpal Simanjuntak mengatakan kunjungan ini merupakan salah satu strategi pendekatan Indonesia untuk memperhatikan kawasan Afrika.
Kunjungan ini adalah lanjutan dari yang sebelumnya ke Afrika Selatan dan Mozambik. Bersamaan dengan Menlu, secara terpisah Wakil Menlu RI Abdurrahman Mohammad Fachir juga akan mengunjungi Senegal dan Kenya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, selama ini, tarif perdagangan internasional antara Indonesia dan negara di Afrika cukup tinggi.
“Salah satu fokus lainnya yakni menangani tingginya hambatan tarif yang tinggi. Di Nigeria, delegasi Indonesia juga akan membahas bagaimana menurunkan tarif sehingga frekuensi, jenis, dan volume perdagangan bisa ditingkatkan,” ucap Daniel.
“Indonesia pernah impor minyak sebanyak hampir 1,29 juta ton dalam satu periode dari Nigeria. Maka dari itu, negara dengan penduduk 188 juta ini memiliki banyak potensi bagi Indonesia,” tutur Daniel.
Sementara dari sisi ekspor, salah satu produk unggulan Indonesia di pasar Afrika adalah minyak sawit. Hal ini pun akan terus didorong oleh delegasi Menlu, kata Daniel.
Di samping isu ekonomi, Daniel tak menutup kemungkinan jika delegasi Indonesia di Afrika juga akan membahas sejumlah isu lainnya seperti keamanan dan maritim.
Retno menyampaikan, Afrika merupakan kawasan yang berpotensi besar sehingga penting bagi Indonesia untuk terus memperkuat kerja sama dengan negara-negara di dalamnya.
Sejak itu, Indonesia terus berupaya mengembangkan kerja sama ke kawasan Afrika melalui berbagai pintu seperti melalui forum serta organisasi regional.
Juru Bicara Kemlu Arrmanatha Nasir mengatakan kunjungan ini adalah pertama kalinya Retno mendatangi Nigeria bukan dalam rangka mendampingi presiden.
“Maka dari itu kunjungan Menlu dan Wamenlu ini terfokus pada penguatan kerja sama sebab Indonesia sadar bahwa Afrika punya potensi besar. Kawasan ini merupakan salah satu pasar non-tradisional penting bagi Indonesia,” ujarnya.