"Langkah menjaga iklim tidak bisa dihentikan dan saya mendorong pemerintahan-pemerintahan di seluruh dunia untuk tetap pada jalur, berkomitmen pada implementasi Perjanjian Paris untuk keuntungan kita semua," ujarnya dikutip AFP, Jumat (2/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam kesepakatan itu, AS bersama anggota lain yang meratifikasi berkomitmen mengurangi pengeluaran emisi negara sebesar 26-28% dalam satu dekade ke depan.
Namun, harapan berada diujung tanduk setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan pengunduran diri Amerika Serikat dari perjanjian iklim tersebut, satu langkah yang dikecam oleh sekutu negaranya dan para pebisnis.
Selain PBB, keputusan Trump untuk membawa AS keluar juga mengundang reaksi keras dari sejumlah pemerintahan di dunia.
Sementara itu, Rusia yang masih belum meratifikasi perjanjian itu menyatakan kemungkinan besar akan tetap mendukung meski Amerika Serikat telah menyatakan hengkang.
Sejumlah pejabat Rusia mengatakan masih perlu waktu untuk meninjau potensi dampak perjanjian itu pada ekonomi dan telah membahas penyusunan strategi pengembangan rendah karbon. Hal ini membuat para pemerhati lingkungan khawatir Moskow tidak akan meratifikasinya.
Walau demikian, Wakil Perdana Menteri Rusia Arkady Dvorkovich mengatakan keputusan Trump tidak akan membuat Rusia mengubah sikap."Kami sudah memutuskan untuk bergabung dan saya rasa kami akan mengubahnya," kata dia dalam laporan kantor berita RIA yang dikutip Reuters.
"Kesepakatan itu menjadi sinyal persatuan negara-negara dalam tema tertentu. Saya rasa tidak akan ada yang meragukan keputusan Amerika membuat kebijakan soal lingkungan. Kami tentu akan melakukannya (membuat kebijakan soal lingkungan) terlepas dari apakah kita bergabung dalam kesepakatan itu atau tidak."