Di acara tersebut, Menlu Retno menjadi salah satu pembicara dalam forum bertemakan 'Peace Meaking in the New Era of Geopolitics'. Dia akan menyampaikan pengalaman Indonesia mengatasi sejumlah konflik domestik maupun regional.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sekitar 100 tokoh, mulai dari kepala negara, pemerintahan hingga organisasi internasional seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) akan hadir dalam acara ini. Menurut Witjaksono, Indonesia juga bisa belajar dari negara lainnya mengenai penanganan dan penanggulangan konflik.
Dia juga tak menutup kemungkinan bahwa dalam forum tersebut, Menlu Retno akan mengangkat isu terorisme dan ekstremisme yang tengah menjadi sorotan seluruh negara di dunia.
“Isu terorisme selalu diangkat oleh semua negara. Ini kemungkinan akan dibahas juga. Banyak yang akan hadir dalam forum tersebut. Pertemuan ini jadi tempat baik bagi Menlu RI untuk bertemu dengan counterpart-nya dari negara lain dan membahas berbagai isu global saat ini,” kata Witjaksono.
Sebelum menghadiri Oslo Forum, Retno juga akan mengadakan pertemuan bilateral dengan Brende. Sejak Nota Kesepahaman Jakarta-Oslo ditandatangani pada 2013 lalu, Indonesia-Norwegia telah membentuk komisi bilateral.
Pertemuan tanggal 11 Juni merupakan pertemuan komisi bilateral Indonesia-Norwegia ketiga. Salah satu isu yang menjadi perhatian kedua negara selama ini adalah lingkungan hidup, kelautan dan perikanan, serta energi baru dan terbarukan.
“Norwegia juga mendukung Indonesia menjadikan ilegal fishing sebagai kejahatan transnasional dalam hukum internasional,” ujar Witjaksono.
Bertemu dengan Brende, Menlu Retno juga akan menandatangani perjanjian bebas visa bagi paspor diplomatik dan kedinasan.