"Kepada seluruh saudara Muslim kami di sana, kami berpesan kepada mereka untuk menghentikan pertarungan tak berarti mereka karena kita semua Muslim," ujar Gubernur Lanao Del Sur, Mamintal Adion Jr, di hadapan para tentara yang menjadi peserta upacara di Marawi, Senin (12/6).
Upacara bendera biasanya diadakan dua kali dalam sepekan di Filipina. Namun, ini merupakan kali pertama bendera dikibarkan di Marawi pasca pecahnya bentrokan yang sudah menewaskan lebih dari 100 orang sejak 23 Mei lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Presiden Rodrigo Duterte pun mendeklarasikan darurat militer di seluruh Mindanao dan memerintahkan pemberantasan kantung-kantung ISIS di Filipina sesegera mungkin.
Dalam pidato perayaan hari kemerdekaannya, Menteri Luar Negeri Filipina, Allan Peter Cayetano, pun mengatakan bahwa ancaman ISIS di negaranya memang benar-benar nyata.
Menurutnya, ISIS sedang berupaya merebut dua hingga tiga kota di Mindanao. Ia pun mengatakan, pihaknya akan bekerja sama dengan Indonesia dan Malaysia untuk mencegah penyebaran militan ISIS yang lebih luas.
AS memang sudah tidak memiliki militer permanen di Filipina. Namun, masih ada sekitar 50 hingga 100 personel pasukan khusus AS yang tersisa di selatan Filipina untuk latihan rutin.
Meski demikian, Duterte sendiri mengaku tak mengetahui keberadaan pasukan AS ini. Ia menegaskan, Filipina tak pernah meminta bantuan AS untuk menumpas militan di Marawi.