Duterte mengatakan, perang sipil sangat mungkin terjadi karena jika kelompok militan Maute yang berafiliasi dengan ISIS mulai merambah ke wilayah lain, warga Kristen akan bersiaga dengan mempersenjatai diri.
"Semuanya akan kacau karena orang Kristen di Mindanao juga akan mempersenjatai diri sendiri. Kita tidak bisa membiarkan itu karena jika warga sipil mempersenjatai diri, akan ada perang sipil," ujar Duterte di hadapan para tentara yang terluka akibat bentrokan dengan Maute di Marawi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami berharap dapat mempercepat proses damai dan saya akan mengatakan kepada Murad dan MILF, 'Kalian urus semua wilayah yang kalian inginkan, di pusat Mindanao, Lanao, Cotabato, Sultan Kudarat," tutur Duterte, Kamis (22/6).
Selama belasan tahun, pemerintah Filipina dan MILF memang sudah menggodok perjanjian yang akan memberikan kewenangan bagi kelompok pemberontak tersebut untuk mendirikan pemerintahan otonom di sejumlah wilayah. Namun, perundingan itu tak kunjung rampung.
Menurut Duterte, lebih baik pemerintah merelakan sejumlah wilayah menjadi daerah otonom ketimbang harus melihat perang sipil pecah di selatan negaranya.
"Saya sangat tidak ingin memberlakukan darurat militer. Saya terpaksa karena jika tidak, kekacauan di Mindanao akan meluas. Kita kemudian akan kesulitan," katanya, sebagaimana dikutip Inquirer.