Untuk Ahmed Saied, guru berusia 54 tahun, dan banyak warga lainnya, Mosul tidak akan lagi sama setelah militan ISIS meledakan mnenara condong yang sudah menghiasi kota selama 850 tahun.
Militan menghancurkan Masjid Agung Al-Nuri pada Rabu malam berikut menara terkenalnya, yang akrab disebut al-Hadba atau si bungkuk oleh warga Irak. Dalam cahaya fajar, yang tersisa hanya dasar bangunan di antara puing-puing.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Para pemberontak memilih untuk meledakan masjid itu ketimbang melihat bendera tersebut diturunkan oleh pasukan Irak yang didukung AS. Mereka bertempur di antara bangunan-bangunan dan jalanan Kota Tua, distrik terakhir yang masih dikuasai ISIS di Mosul.
"Dini hari, saya naik ke atap rumah saya dan terkejut melihat menara Hadba sudah hilang," kata Nashwan, seorang buruh harian yang tinggal Khazraj, melalui sambungan telepon. "Saya menangis, saya merasa kehilangan anak."
Menara itu dibangun dari tujuh lapis bata dekoratif dalam pola geometris rumit yang juga ditemukan di Persia dan Asia Tengah. Kemiringan dan kurangnya perawatan membuat menara itu rentan terhadap ledakan.
"Pasukan keamanan Irak terus mendorong ke kawasan ISIS yang terisa, kata Kolonel Ryan Dillon, juru bicara koalisi internasional yang membantu pasukan Irak melawan ISIS.
"Hanya ada dua kilometer persegi yang tersisa di Mosul Barat sebelum seluruh kota bisa dibebaskan," ujarnya kepada Reuters melalui telepon.
Untuk banyak orang, kehancuran menara itu menjadi tanda kejatuhan terakhir kekuasaan ISIS di Mosul dan meramalkan kekalahannyta di Irak. "Menghgancurkan al-Hadba dan al-Nuri sama dengan mengakui kekalahan secara resmi," kata Perdana Menteri Haider al-Abadi di situs webnya.