Kalah setelah menguasai Mosul selama tiga tahun, kelompok ISIS kini semakin terdesak. Mereka juga kehilangan basis operasinya di Raqqa, Suriah, di mana mereka merencanakan serangan global.
Kelompok tersebut, walau demikian, masih menguasai sejumlah wilayah di Irak dan diperkirakan akan kembali menggunakan taktik lebih konvensional seperti serangan bom seiring dengan kehancuran kekhalifahan gadungan yang mereka coba dirikan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Televisi negara setelah itu menunjukkan Abadi mengelilingi Mosul dengan berjalan kaki didampingi warga di kota terbesar kedua di Irak itu.
Serangan udara dan baku tembak masih besa terdengar di jalan-jalan sempir di Kota Tua Mosul, di mana kelompok ISIS terjebak di pertahanan terakhirnya, dikelilingi pasukan Irak yang didukung koalisi internasional pimpinan Amerika Serikat.
Lihat juga:Operasi Penyelamatan Warga Sipil Mosul |
Juru bicara Abadi, Saad al-Hadithi, mengatakan kemenangan tidak akan secara resmi dinyatakan hingga sisa-sisa militan ISIS sudah benar-benar habis.
Walau demikian, Perancis dan Inggris, anggota koalisi yang melakukan serangan udara dan memberikan pelatihan serta bantuan bagi pasukan Irak, tetap menyambut kekalahan itu.
"Mosul dibebaskan dari ISIS: Perancis memberikan penghormatan bagi semua, yang bersama pasukan kami, berkontribusi atas kemenangan ini," kata Presiden Emmanuel Macron lewat Twitter.
Meski turut merayakan "pengusiran kelompok pembunuh dari Mosul," Fallon menyebut operasi militer belum selesai.
"Kelompok barbar masih bersembunyi di bagian barat Euphrates dan operasi pembersihan di Mosul dan sekitarnya akan dibutuhkan karena masih ada ancaman bom-bom rakitan."
Di Washington, juru bicara Dewan Keamanan Nasional Michael Anton, ketika ditanya apakah pertempuran Mosul sudah sepenuhnya berakhir, mengatakan "situasi belum dapat dipastikan, tapi kami memantau."