Mengibarkan bendera turki dan spanduk merah-putih bertulisan "keadilan," mereka berkumpul untuk mendengarkan pidato pemimpin oposisi utama Turki, Kemal Kilicdaroglu, di akhir mars 425 kilometer dari Ankara, Minggu waktu setempat (9/7).
Kilicdaroglu, kepala Partai Rakyat Republik (CHP) yang berhaluan sekuler, berangkat deri ibu kota pada pertengaha Juni untuk memprotes pemenjaraan anggota partainya, Enis Berberoglu. Ia dipenjara selama 25 tahun atas tuduhan memata-matai.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berjalan sekitar 20 kilometer per hari, pria bertubuh ramping dan berkacamata itu menarik hanya sedikit pendukung di tahap awal gerakannya. Setelah lima hari dan 100 kilometer, hanya sekitar 1.000 orang yang berjalan kaki bersamanya.
Namun, angka pendukung gerakan itu membengkak di hari-hari terakhir dan gerakan jalan kaki itu menarik massa yang besar. Pria berusia 68 tahun itu masih mengikutinya menjalani rute tersebut sambil meneriakkan "Hak, Hukum, Keadilan."
Namun, aksi tersebut diizinkan untuk berlanjut di tengah hukum darurat yang berlaku. Sebanyak 15 ribu anggota kepolisian dikerahkan untuk mengawalnya, kata Gubernur Istanbul dalam laporan Anadolu yang dikutip Reuters.
Kelompok pemerhati HAM dan kritikus pemerintah, termasuk para anggota CHP, mengatakan Turki bergerak ke arah pemerintahan otoriter sejak upaya kudeta. Sementara itu, pemerintah mengatakan tindakan diperlukan melihat ancaman keamanan yang dihadapi.
(aal)