Juru bicara Kementerian Luar Negeri Austria mengatakan acara besar tersebut merupakan bahaya bagi ketertiban umum dan keamanan Austria.
"Saya dapat mengonfirmasi bahwa Menlu Austria Sebastian Kurz telah melarang Menlu Turki untuk memasuki negara ini," tutur jubir Kemlu Austria tersebut, Senin (10/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Melansir Reuters, Erdogan menganggap perlakukan pemerintah Jerman tersebut sebagai "tindakan bunuh diri."
Austria menjadi salah satu negara Uni Eropa paling vokal yang kerap mengkritik pemerintahan Turki sejak kudeta gagal oleh militer terjadi pada Juli lalu.
Kudeta gagal itu menewaskan 240 orang. Sejak kejadian itu, lebih dari 50 ribu orang di Turki menjadi incaran lantaran diduga terlibat upaya penggulingan pemerintahan.
Sekitar 150 ribu orang yang terdiri dari ribuan tentara, polisi, jajaran peradilan, praktisi pendidikan, badan intelijen, serta otoritas keagamaan pun dipecat dari pekerjaan mereka.
Langkah Wina dan Den Haag baru-baru ini pun seakan mengembalikan ketegangan hubungan kedua negara dengan Ankara.
Referendum tersebut menyebabkan Erdogan memiliki kewenangan yang lebih besar lagi dan disebut sejumlah pengamat sebagai upaya menjadikan Turki negara otoriter.
(aal)