Ketua tim kampanye saat itu, Paul Manfort, dan menantu Trump, Jared Kushner, juga menghadiri pertemuan di Trump Tower pada 9 Juni 2016. Tepatnya, peristiwa ini terjadi dua pekan setelah pengusaya yang kini jadi orang nomor satu di AS resmi dicalonkan oleh Partai Republik untuk bertarung di pemilihan umum.
Dikutip The New York Times dan belakangan Reuters berikut sejumlah media lain, Trump Jr mengakui pertemuan dengan pengacara Rusia Natalia Veselnitskaya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Trump Jr mengatakan Veselnitskaya kemudian membelokkan percakapan ke arah masalah adopsi anak-anak Rusia dan hukum AS yang memasukkan sejumlah warga Rusia ke dalam daftar hitam terduga pelanggar hak asasi manusia.
Presiden Trump "tidak mengetahui dan tidak menghadiri" pertemuan tersebut, kata Mark Corallo, juru bicara tim hukum Trump dalam pernyataan yang dikirim melalui surat elektronik.
"Saya meminta Jared dan Paul untuk ikut, tapi tidak memberi tahu apa-apa soal substansinya," kata dia.
"Pertemuan berlangsung kurang lebih selama 20 hingga 30 menit," ujarnya. "Di akhir pertemuan, kenalan saya meminta maaf karena telah membuang waktu kami. Itu adalah akhir dari hubungan kami dan tidak pernah ada tindak lanjut apapun. Ayah saya tidak tahu apa-apa."
Laporan The New York Times menyebut Trump Jr dijanjikan informasi yang merugikan Clinton sebelum sepakat bertemu dengan pengacara itu. Artikel itu mengutip tiga penasihat Gedung Putih yang dijelaskan soal pertemuan tersebut, serta dua orang lain yang juga mengetahuinya.
Sementara itu, perwakilan Manafort dan Kushner tidak merespons ketika dimintai komentar.
Dugaan hubungan kampanye Trump dengan Rusia telah membayangi lima bulan pertama masa kepemimpinan Trump.
Konsul federal khusus dan sejumlah komite kongres sedang menyelidiki kemungkinan kontak antara tim kampanye dan perwakilan Rusia sebagai bagian dari kasus lebih besar terkait dugaan ikut campur Rusia dalam pemilihan umum.
Lihat juga:Trump dan Putin Capai Kesepakatan di KTT G20 |
Pengungkapan ini terjadi setelah Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin berdiskusi soal dugaan turut campur dalam pemilu itu di sela Konferensi Tingkat Tinggi G-20 di Hamburg, Jerman.
Kremlin telah menampik kesimpulan sejumlah badan intelijen AS yang menyebut Rusia mencoba untuk memenangkan Trump dalam pemilu menggunakan cara-cara seperti peretasan surel petinggi Partai Demokrat.
Di sisi lain, Trump telah berulang kali menampik berkolusi dengan negeri beruang merah.
(aal)