"Kami tidak akan mengeluarkan pengampunan bagi para teroris yang kejam," kata Abadi dalam pembukaan pertemuan di kabinet menteri, Kamis (13/7).
Dia juga menegaskan tidak akan ada teroris yang lolos dari hukuman pemerintahnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tentara adalah pembela HAM yang telah mengorbankan diri mereka untuk membebaskan umat manusia dan menyelamatkan warga sipil. Pemerintah mendukung usaha tentara membela HAM dan akan menentang setiap pelanggaran [HAM]," tutur Abadi.
Setelah menurunkan 10 ribu pasukan dan bertarung selama sembilan bulan melalui berbagai serangan darat dan udara, militer Irak berhasil mendepak ISIS dari Mosul pada akhir pekan lalu.
Meski begitu, operasi besar-besaran yang didukung koalisi internasional pimpinan Amerika Serikat ini menewaskan dan melukai ribuan korban sipil.
Amnesty International meminta pembentukan komisi untuk menyelidiki kejahatan terhadap warga sipil yang dilakukan semua pihak dalam pertempuran merebut Mosul dari militan ISIS.
Organisasi HAM berbasis di Inggris itu menganggap operasi yang dilakukan pasukan Irak dan koalisi AS di Mosul selama ini melanggar hukum internasional dan bisa mengarah pada kejahatan perang.
"Pemerintah Irak dan koalisi AS harus segera dengan terbuka mengakui besar dan seriusnya dampak serta korban sipil selama melakukan operasi pembebasan Mosul," tutur Lynn Malouf, direktur riset kantor regional Beirut Amnesty Internasional.
Lihat juga:Baghdadi, Pemimpin ISIS yang Menolak Mati |
Menanggapi ini, Abadi meminta organisasi tersebut memeriksa dan memverifikasi kejelasan sumber dari laporan mereka.
Dia menilai, para pemerhati HAM ini untuk melihat pula kejahatan dan kekejaman yang selama ini dilakukan ISIS terhadap warganya di Mosul.
"Mereka [organisasi HAM] juga perlu melihat kegembiraan warga Mosul dan sambutan hangat mereka kepada para tentara Irak yang berani. Mereka juga perlu merenungkan tindakan ISIS ketika membantai orang-orang di Mosul dan menghancurkan segalanya dengan cara mereka," kata Abadi.