Akibatnya, banyak warga Inggris yang ikut berkontribusi mendanai kelompok ekstremis seperti teroris, meski kadang dilakukan tanpa disadari.
Menteri Dalam Negeri Amber Rudd mengatakan sumber paling signifikan bagi pendanaan organisasi ekstremis di Inggris berasal dari sumbangan-sumbangan kecil bersifat anonim dari masyarakat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemendagri memperingatkan, dengan datangnya dukungan asing, kelompok ekstremis dimungkinkan untuk memperluas penyebaran ideologi ultra-konservatifnya secara sosial kepada individu dan petinggi agama Islam di Inggris.
"Dan beberapa dari individu-individu tersebut telah menjadi incaran para ekstremis di luar sana," tutur Rudd.
Rudd memutuskan tak mengungkap keseluruhan laporan kementeriannya tersebut karena alasan keamanan nasional, mempertimbangkan banyaknya data-data dan informasi pribadi yang tertera.
Dengan adanya laporan ini pemerintah akan secara langsung mengangkat isu-isu yang menjadi perhatian publik, yang didukung oleh bukti, bersama negara-negara lain terkait--meski tak menyebutkan negara apa saja yang dimaksud.
Juru bicara Kemendagri menuturkan, sejauh ini tidak ada komitmen dari pemerintah untuk mempublikasikan keseluruhan laporan itu.
Sementara itu, keputusan ini ditentang oleh sejumlah politikus oposisi dan pengamat.
Pihak oposisi menegaskan bahwa publik Inggris secara luas berhak mengetahui semua pihak termasuk pemerintah, individu, dan kelompok domestik maupun organisasi asing yang disebut mendukung ekstremisme dalam laporan itu.
Ketua Partai Hijau, Caroline Lucas, menganggap keputusan kemdagri tersebut "sama sekali tidak jelas dan tidak dapat diterima."
"Laporan pemerintah tersebut juga mungkin telah mengidentifikasi badan amal dan institusi ekstremisme yang telah menerima uang dari pemerintah," tutur CEO Kelompok Kontra-Ekstremisme Quilliam, Haras Rafiq.
"Keamanan nasional hanya berdampak saat kita berbicara soal terorisme. Dan laporan ini tidak berkaitan dengan terorisme. Ini tentang pendanaan ekstremisme," katanya menambahkan.