"Pasukan dikejutkan oleh demonstrasi beberapa pelanggar batas yang menembakkan senapan burung dan melempar batu ... yang memaksa petugas untuk menembakkan gas air mata untuk memencarkan para pemrotes dan mengendalikan situasi," bunyi pernyataan yang dikutip Reuters, Senin (17/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penghuni pulau tersebut menyatakan sudah membangun rumah di sana lebih dari 30 tahun lalu.
"Kami lahir di pulau ini ... kami punya bukti kepemilikan, orang tua kami lahir di sini ... mereka ingin memberikan tanah ini kepada Emirates untuk membangun hotel," kata Marzouk Hany, tukang potong daging berusia 20 tahun yang ikut dalam upacara pemakaman korban bentrokan.
Pada Mei lalu, Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi memulai kampanye untuk meruntuhkan ribuan bangunan yang diduga dibangun di tanah milik negara.
"Ada pulau-pulau di Nil ... menurut hukum tidak ada seorang pun yang boleh ada di sana," kata Sisi dalam pidato Juni lalu. Dalam kesempatan yang sama, dia juga memerintahkan otoritas untuk memprioritaskan pengambilalihan pulau tersebut dalam.
Sekitar 90 ribu orang tinggal di pulau seluas 5 kilometer persegi itu, kata Mahmoud Jaffar Salman, mantan anggota parlemen dari Giza, salah satu daerah di pulau tersebut.
(aal)