Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengumpulkan anggota kabinet keamanannya pada Minggu waktu malam (23/7). Sementara itu, Presiden Palestina Mahmoud Abbas mengatakan akan menghentikan hubungan keamanan dengan Israel hingga gerbang pendeteksi yang dipasang sebagai respons atas tewasnya dua polisi Israel itu dicopot.
Pemerintahan sayap kanan Netanyahu khawatir dipandang takluk pada tekanan Palestina di situs yang juga dianggap suci oleh umat Yahudi itu. Kompleks tersebut termasuk dalam daerah Yerusalem Timur yang dicaplok Israel pada perang 1967 dan diklaim sebagai ibu kota, meski tidak diakui secara internasional.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kecewa atas tindakan yang dipandang sebagai pelanggaran atas perjanjian yang telah berlangsung selama beberapa dekade, banyak warga Palestina yang tidak mau melewati detektor logam itu dan memilih untuk beribadah di jalanan atau menggelar protes.
Reuters melaporkan terjadi beberapa bentrokan antara jemaat Muslim dan aparat keamanan Israel setelah salat Isya di pintu Kota Tua Yerusalem, Minggu malam. Sumber dari otoritas medis Palestina mengatakan tidak ada luka-luka serius.
Sementara itu, seorang warga Yordania tewas dalam insiden penembakan di lokasi terpisah, tepatnya di kompleks Kedutaan Besar Israel di Yordania, Amman.
Rincian dari peristiwa itu masih belum jelas. Israel melarang pemeberitaan terkait insiden tersebut dan tidak menyampaikan komentar secara publik.
Yordania menjadi salah satu tempat yang kebanjiran protes pemasangan detektor logam itu. Para pejabat negara tersebut pun menyerukan pencopotan alat tersebut dari masjid Al-Aqsa.