Para petinggi pertahanan negara tersebut mengakui telah meremehkan para militan pro ISIS yang sangat terorganisir itu. Mereka menyapu kota itu pada 23 Mei lalu dan masih menguasai sebagian daerahnya meski terus digempur oleh ratusan tentara yang dibantu serangan udara dan artileri.
Kongres Filipina telah menyetujui permintaan Duterte untuk memperpanjang darurat militer hingga akhir tahun di Mindanao. Dengan demikian, pasukan keamanan sekaligus mendapatkan kewenangan lebih besar untuk mengejar para ekstemis hingga ke luar Marawi.
Lihat juga:Mayat, Pengungsi, dan Dilema Sesudah ISIS |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Duterte telah memerintahkan militer untuk menghindari korban sipil lebih banyak.
"Saya memerintahkan mereka 'jangan menyerang.' Yang terpenting adalah kami tidak mau membunuh orang," ujarnya pada akhir pekan lalu, sebagaimana dikutip Reuters, Senin (24/7). "Jika kita harus menunggu selama satu tahun, maka kita tunggu hingga satu tahun."
Lihat juga:ISIS Marawi Siapkan Serangan di Indonesia |
Para militan dari Malaysia dan Idonesia yang sama-sama bermayoritas Muslim diketahui turut bertarung di Marawi.
Sekitar 5 juta Muslim tinggal di Filipina yang bermayoritas Katolik, kebanyakan di Mindanao. Menteri Perahanan Delfin Lorenzana mengindikasikan bahwa setelah Marawi, pemerintah akan memperkuat pengawasan di kawasan, memperluas jangkauan untuk mendeteksi kamp-kamp pelatihan pemberontak dan pergerakan militan.
"Kami butuh lebih banyak peralatan komunikasi, komunikasi tingkat tinggi yang bisa kami gunakan untuk menyadap ponsel musuh. Kami juga butuh pesawat nirawak," ujarnya di hadapan Kongres.