Sersan kelas satu yang bertransisi hidup sebagai laki-laki saat aktif bertugas itu mengatakan dirinya bisa jadi kehilangan banyak tunjangan dan layanan kesehatan jika dipecat dari militer dua tahun sebelum rencana pensiunnya. Bahkan, hal itu juga bisa menghilangkan kesempatannya untuk kembali direkrut angkatan bersenjata.
"Buat apa melayani negara yang tidak menginginkan saya? Hati saya hancur, sungguh," kata tentara berusia 37 tahun asal Indianapolis itu, dikutip Reuters pada Kamis (27/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pengumuman Presiden dari Partai Republik yang disampaikan melalui serangkaian kicauan di Twitter itu mengakhiri upaya bertahun-tahun untuk menghilangkan batasan militer atas dasar orientasi seksual atau identitas gender. Baru tahun lalu, Pentagon mengakhiri larangan yang memaksa kelompok transgender untuk bergabung dengan tentara secara diam-diam.
Trump tidak secara spesifik mengatakan bagaimana larangan itu akan diberlakukan dan bagaimana nasib tentara transgender yang sudah terlanjur bergabung atau para rekrutan baru. Ia hanya mengatakan larangan itu dilakukan karena "biaya medis besar dan gangguan."
Lihat juga:LGBT Kini Bisa Bergabung dengan Militer AS |
"Saya tahu banyak anggota pasukan yang takut karirnya selesai," kata Letnan Komandan Angkatan Laut Blake Dremann, pemimpin organisasi pemerhati anggota militer transgender. "Saat ini, mereka masih menjalankan pekerjaannya dan kami akan terus berupaya untuk memastikan itu terus berlangsung."
Sementara itu, Pentagon hanya menyatakan sedang menggodok pedoman berkembang menyusul serangkaian kicauan Trump tersebut.