Malaysia Larang Buku Islam Moderat, Pemilik Diancam Penjara

Lesthia Kertopati | CNN Indonesia
Rabu, 02 Agu 2017 10:00 WIB
Buku 'Breaking The Silence: Voices Of Moderation - Islam In A Constitutional Democracy' dilarang peredarannya di Malaysia dan pemiliknya terancam penjara. Ilustrasi: Malaysia melarang peredaran buku berjudul 'Breaking The Silence: Voices Of Moderation - Islam In A Constitutional Democracy'. (Ramdlon/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah Malaysia melarang peredaran, pencetakan dan kepemilikan buku Islam moderat, serta menetapkan hukuman penjara hingga tiga tahun bagi mereka yang melanggar.

Buku berjudul "Breaking The Silence: Voices Of Moderation - Islam In A Constitutional Democracy" itu berisi kumpulan esai yang diterbitkan oleh sebuah organisasi Muslim kenamaan di Malaysia, dengan tujuan mendorong Islam yang lebih toleran.

Namun, pemerintah Malaysia yang cenderung konservatif, menyebut buku tersebut bisa “memecah opini publik” dan “mengganggu ketertiban umum”.

Wakil Perdana Menteri Malaysia Ahmad Zahid Hamidi yang menandatangani pelarangan pada Selasa (1/8), menyebut bahwa mencetak atau memiliki buku tersebut dianggap melanggar peraturan, dan bisa dihukum penjara hingga tiga tahun.

Adapun Malaysia memang kerap melarang penerbitan buku, film dan lagu yang mengandung materi sensitif mengenai agama atau seks. Namun, kritikus menilai pemerintah semakin ketat beberapa tahun terakhir.


Buku tersebut merupakan gagasan dari sekelompok mantan pegawai negeri sipil dan diplomat terkemuka yang dikenal sebagai "G25”, yang dibentuk untuk melawan intoleransi.

"Ini adalah kumpulan esai yang menunjukkan pemikiran ekstremis dan fanatik mengenai hal-hal yang berkaitan dengan praktik Islam di sebuah negara harus diperangi secara intelektual," kata Chandra Muzaffar, salah satu penulis esai dalam buku tersebut, kepada AFP.

Chandra menambahkan larangan buku tersebut menunjukkan "pendekatan otoriter terhadap Islam" oleh pemerintah.

Di sisi lain, Marina Mahathir, putri mantan perdana menteri Mahathir Mohamad dan aktivis hak asasi manusia, mengatakan larangan yang ditandatangani pekan lalu itu, ditujukan untuk membungkam pengkritik pemerintah.

“[Larangan] ini hadir untuk membungkam siapapun yang memiliki pandangan berbeda," katanya.

Kritikus mengatakan tindakan keras pemerintah terhadap sesuatu yang dianggap tidak Islami terus meningkat, karena partai Perdana Menteri Najib Razak berusaha menarik simpati masyarakat Muslim Melayu di spekulasi pemilu yang akan dilangsungkan dalam waktu dekat.

Sebelumnya, pemerintah Malaysia juga melarang lagu populer "Despacito" ditayangkan di televisi dan radio negara karena liriknya yang sensual dan dianggap vulgar.

Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

TERPOPULER