Perusahaan penyedia mesin pemungutan suara menyatakan klaim pemerintah, yang menyebut ada 8,1 juta orang pemilih saat itu, melebihi estimasi penghitungan dengan jarak setidaknya 1 juta suara. Maduro menyebut hal itu adalah upaya untuk menodai proses yang telah berlangsung bersih dan transparan.
"Pemilihan ini tidak bisa dinodai siapapun, karena proses itu telah berjalan transparan, diaudit sebelum, saat dan setelah suara disampaikan," ujarnya di hadapan para pendukung dalam siaran televisi yang dikutip Reuters, Rabu (3/8)
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Memaparkan data dari 14.515 tempat pemungutan suara, data itu menunjukkan bahwa 3.720.465 orang telah memberikan suaranya hingga 17.30. Proses pemilihan berakhir pada 19.00 dan sejumlah pakar pemilu menyebut tidak mungkin terjadi penambahan suara hingga dua kali lipat di beberapa jam terakhir.
"Kami teguh pada laporan kami," kata Kepala Bidang Komunikasi Global Reuters Abbe Serphos melalui surat elektronik.
"Kami tahu, tanpa keraguan, bahwa jumlah pemilih dalam pemilihan baru-baru ini untuk membentuk Dewan Konstituen Nasional telah dimanipulasi," kata Eksekutif Kepala Smartmatic Antonio Mugica dalam penjelasan pers di London, Inggris.
"Kami memperkirakan perbedaan antara angka partisipasi sesungguhnya dan yang diumumkan otoritas setidaknya mencapai 1 juta suara," ujarnya.
Oposisi yang memboykot pemungutan suara itu menyebut penghitungan pemerintah sebagai penipuan. Jumlah pemilih yang tinggi dipandang krusial bagi Maduro untuk melegitimasi pemungutan suara itu di hadapan kritik internasional.
Negara-negara di seluruh dunia telah mengecam pembentukan dewan itu sebagai upaya untuk memperpanjang masa jabatan Maduro hingga waktu yang tidak ditentukan. Dia dikritik secara luas karena krisisi ekonomi yang disertai inflasi besar-besaran dan kelangkaan bahan pokok.