"Kami mendiskusikan masalah Laut China Selatan dan mencatat kekhawatiran sejumlah menteri atas reklamasi lahan dan kegiatan di daerah tersebut, yang melunturkan kepercayaan, meningkatkan ketegangan, dan membahayakan perdamaian, keamanan, dan stabilitas kawasan," demikian bunyi Komunike Bersama Menlu ASEAN.
Melanjutkan pernyataan mereka dalam komunike yang disepakati dalam pertemuan ASEAN di Manila tersebut, para menlu menulis, "Kami menekankan pentingnya non-militerisasi dan menahan diri dalam melakukan semua aktivitas oleh pihak pengklaim dan negara lainnya."
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejumlah laporan yang beredar sebelumnya menyebutkan, Vietnam sempat melakukan lobi agar bahasa dalam komunike itu dipertegas, mengingat mereka merupakan salah satu negara yang merasa dirugikan.
Selain Filipina dan Vietnam, negara ASEAN lain, yaitu Brunei dan Malaysia, juga terlibat sengketa di Laut China Selatan.
Para pengklaim wilayah ini sempat mengkritik pernyataan Ketua dalam Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN pada April lalu karena terkesan terlalu lembek ketika menyebut "proses diplomatik dan hukum" untuk penyelesaian masalah sengketa. (has)