"Ketika kondisinya tepat maka kita bisa duduk dan berdialog seputar masa depan Korea Utara sehingga mereka bisa merasa aman dan sejahtera secara ekonomi," kata Tillerson dalam Forum Regional ASEAN di Manila, Filipina, Senin (7/8).
"Sinyal terbaik yang bisa diberikan Korea Utara bahwa mereka siap berdialog adalah dengan menghentikan peluncuran rudal-rudalnya."
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Belakangan, Korut terus melakukan uji coba peluru kendali dan nuklir meski telah dikecam oleh masyarakat internasional. Atas peluncuran rudal balistik antarbenua (ICBM) akhir Juli lalu, Perserikatan Bangsa-Bangsa pun kembali menjatuhkan sanksi untuk sekian kalinya.
Pyongyang mengecam tindakan tersebut. Menurut pemerintahan Kim Jong-un, hal tersebut merupakan bentuk pelanggaran kedaulatan dan negara terisolasi itu bersumpah akan membalasnya.
Korut juga menyatakan tidak akan pernah menegosiasikan program nuklirnya, selama Amerika Serikat terus menerapkan kebijakan yang merugikannya. Demikian dilaporkan KCNA sebagaimana dikutip Reuters.
Menurut pemerintahan Korea Selatan, saat itu Moon juga mengatakan pintu dialog dengan Korea Utara masih harus terus dibuka, jika negara tersebut rela menghentikan program rudalnya.
Sementara itu, dalam pernyataan terpisah, Gedung Putih menyatakan kedua pemimpin negara "menegaskan bahwa Korea Utara memicu ancaman buruk yang terus berkembang" untuk sebagian besar negara di seluruh dunia.