Mereka mengatakan baju-baju buatan Korea Utara diberi label "Made in China" dan diekspor ke seluruh dunia.
Pemasok asal China mengirim kain dan bahan-bahan mentah lain yang dibutuhkan untuk membuat pakaian ke Korea Utara. Dari sana, barang-barang itu dijahit dan diekspor.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami menerima pesanan dari seluruh dunia," kata salah seorang pengusaha berdarah Korea-China di Dandong, kota perbatasan yang menaungi mayoritas perdagangan dengan Korut. Seperti sekian banyak orang yang diwawancara untuk laporan ini, ia enggan menyebutkan namanya dengan alasan isu yang sensitif.
Puluhan agen pakaian beroperasi di Dandong, berperan sebagai perantara untuk pemasok pakaian asal China dan pembeli dari Amerika Serikat, Eropa, Jepang, Korea Selatan, Kanada dan Rusia, kata pengusaha itu.
Dengan nilai US$752 juta, tekstil mewakili nilai ekspor terbesar kedua Korut setelah batu bara dan mineral lain, 2016 lalu. Total nilai ekspor Korut secara keseluruhan pada saat itu meningkat 4,6 persen menjadi US$2,82 miliar.
Sanksi terbaru PBB, awal bulan ini, sepenuhnya melarang ekspor batu bara.
Ekspor China ke Korea Utara meningkat nyaris 30 persen menjadi US$1,67 miliar pada paruh pertama tahun ini, sangat dipengaruhi bahan tekstil dan barang-barang buatan buruh kasar yang tidak termasuk dalam daftar embargo PBB, kata juru bicara bea cukai China Huang Songping kepada Reuters.